-->

Notification

×

Kategori Berita

Cari Berita

Iklan


 

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Yayasan Srikandi Lestari Soroti Dampak Gangguan Kesehatan Buat Warga Sekitar PLTU Pangkalan Susu.

Sabtu, 13 Juni 2026 | 10.20.00 WIB | 0 Views Last Updated 2026-06-13T17:20:08Z

Keterangan Photo : Kondisi Kapal Tongkang Yang Mengangkut Batu Bara dan Selalu Menjatuhkan Batu Bara Saat Bongkar di PLTU Pangkalan Susu, photo diambil 4 Maret 2026.


PANGKALAN SUSU-TURANGNEWS.COM- Yayasan Srikandi Lestari (YSL), menemukan setidaknya 914 orang terdampak Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) Pangkalan Susu, Kabupaten Langkat, Sumatera Utara (Sumut). Mereka menderita berbagai gangguan kesehatan dari pernapasan sampai tubuh benjol maupun gatal-gatal dan penyakit lain.


Hal itu diungkapkan oleh Yayasan Srikandi Lestari (YSL) dilansir dari Mongabay.co.id (04/09/2025) disebutkan, berdasarkan survei yang dilakukan Yayasan Srikandi Lestari bahwa antara bulan Juni-Agustus 2025. Sebagian besar korban terdampak Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) Pangkalan Susu, Kabupaten Langkat, berada di tiga desa sekitar PLTU, Desa Pulau Sembilan, Sei Siur dan Lubuk Kertang.


YSL menilai, kondisi ini bertentangan dengan Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Nomor 19/2021 tentang pengelolaan limbah non B3. Karena, FABA mengandung logam berat dan senyawa beracun merkuri, arsenik, PM2,5, dan timbal yang berbahaya bagi kesehatan manusia.


Sumiati Surbakti, Direktur YSL, menduga PLTU Pangkalan Susu menggunakan batubara kualitas sangat buruk. Jenis batubara ini lebih kotor dan lebih mencemari lingkungan.


Asap pembakaran meracuni masyarakat lokal di sekitar pembangkit, dan limbah merusak pertanian. Kualitas air laut juga tercemar, berdampak pada nelayan kecil yang saat ini sulit mendapat ikan, karena mereka duga limbahnya mengalir ke laut.


Keterangan Photo : Hingga Saat Ini Diduga PLTU Pangkalan masih menggunakan batu-bara sebagai bahan bakar untuk operasional PLTU, photo diambil dilokasi pada 4 Maret 2026.


Menurut Sumiati Surbakti, temuan YSL, masyarakat yang tinggal di lingkar pembangkit listrik mengalami penyakit pernapasan, dan batuk berkepanjangan. Penderitanya mulai dari anak-anak hingga orang dewasa. Ada juga yang mengalami batuk berdahak kronis dan iritasi kronis saluran pernapasan. Beberapa warga mengalami muntah-muntah. Dari rekam medis, indikasi gangguan pernapasan serta pencernaan, dugaan karena pencemaran udara dari asap pembakaran batubara.


Disebutkan Sumiati Surbakti, YSL juga menemukan masyarakat yang mengalami gangguan penyakit kulit seperti gatal-gatal. Penyakit ini menahun. Walau sudah pernah tertangani dan berobat ke dokter kulit, namun sulit sembuh. Selain itu, limbah batubara yang mengalir ke laut atau ke udara terpapar ke warga. Ada dugaan, hal ini yang menyebabkan pembengkakan atau benjolan pada bagian tubuh tertentu.


YSL juga menemukan pembengkakkan kelenjar beriringan dengan munculnya benjolan pada beberapa bagian tubuh, dugaan kanter, sehingga perlu tindakan operasi. Ada juga penyakit kronis lain, seperti batu ginjal, banyak mereka temukan pada pekerja tambak yang berdekatan dengan PLTU.


Ada dugaan PLTU Pangkalan Susu membuang limbah cair dengan suhu 42 derajat Celsius, yang bertentangan dengan Keputusan Menteri Lingkungan Hidup 51/2004 tentang Standar Kualitas Air Laut, dan Peraturan Menteri Lingkungan Hidup 8/2009 tentang Standar Kualitas Limbah Cair untuk Usaha dan/atau Kegiatan Pembangkit Listrik Tenaga Panas.


Keterangan Photo : Hingga Saat Ini Diduga PLTU Pangkalan masih menggunakan batu-bara sebagai bahan bakar untuk operasional PLTU, photo diambil dilokasi pada 4 Maret 2026.


Berdasarkan regulasi, suhu maksimum 40 derajat Celsius. Dugaan ketidakhadiran filter abu terbang di PLTU Pangkalan Susu yang menggunakan batubara menjadikan situasi ini lebih mengerikan.


Menurut Sumiati Surbakti, dari hasil investigasi d serta data analisis mengenai dampak lingkungan (amdal), PLTU Unit III dan IV Pangkalan Susu membutuhkan 89.200 ton batubara kelas rendah per bulan dengan kandungan kalori sekitar 4.200 kkal/kg.


“Penggunaan batubara untuk PLTU Pangkalan Susu yang diduga dilakukan secara ugal-ugalan, berdampak pada polusi serta mengganggu kesehatan masyarakat tinggal di lingkar proyek pembangkit listrik tersebut,” diakhir keterangan Sumiati Surbakti, Selasa (26/08/2025). 


Sementara saat Mongabay saat itu coba melakukan konfirmasi terkait temuan mereka dan meminta tanggapan Dedi Khairunas, Manager IPP dan Express Power PT. PLN (Persero) UID Sumatera Utara saat itu, sang Manager diduga enggan berkomentar banyak terkait hal itu.


Keterangan Photo : Hingga Saat Ini Diduga PLTU Pangkalan masih menggunakan batu-bara sebagai bahan bakar untuk operasional PLTU, photo diambil dilokasi pada 4 Maret 2026.


Dituliskan Mongabay, Dedi Khairunas hanya mengatakan, Pemerintah Indonesia berkomitmen mengurangi penggunaan energi fosil batubara untuk pembangkit listrik. Saat ini, mereka lebih fokus pada pembangunan atau proyeksi penggunaan energi terbarukan.


“Untuk penambahan pasokan listrik di Provinsi Sumatera Utara, kita lebih terfokus pada penggunaan energi baru terbarukan dan tidak lagi menggunakan energi fosil batubara. Di Sumut sudah tidak ada lagi pembangunan listrik menggunakan bahan bakar batubara,” katanya.


Namun realisasinya hingga saat ini diduga PLTU Pangkalan Susu hingga saat ini diduga masih menggunakan batu-bara sebagai bahan bakar untuk operasional PLTU. (SA). 

Dilansir dari : Mongabay.co.id.

×
Berita Terbaru Update