-->

Notification

×

Kategori Berita

Cari Berita

Iklan


 

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Korban Jiwa Dampak Banjir dan Longsor Tembus 1000 Jiwa, Presiden RI Prabowo Minta Maaf Aliran Listrik Belum Stabil.

Sabtu, 13 Desember 2025 | 05.02.00 WIB | 0 Views Last Updated 2025-12-13T13:02:15Z
Keterangan Photo : Kondisi Kuala Simpang Kabupaten Aceh Tamiang, Sabtu (13/12/2025).


MEDAN-TURANGNEWS.COM-Jumlah korban meninggal dunia akibat bencana banjir dan longsor di Sumatera bertambah delapan orang, sehingga total menjadi 1.003 orang berdasarkan data terbaru Badan Nasional Penanggulangan Bencana atau BNPB hingga Sabtu (13/12/2025) sore.


Data yang diunggah di laman bpnb.go.id, per Sabtu tanggal : 13 Desember 2025, pukul 16.00 WIB, juga menyebutkan jumlah korban yang hilang berkurang dibanding data pada Sabtu siang sebanyak 226 orang menjadi tinggal 218 orang. Sementara sekitar 5.400 orang terluka.



Jumlah korban meninggal dunia tersebar di 24 kabupaten/kota di tiga provinsi (Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat). Dilihat dari pergerakan data korban meninggal dunia per kabupaten/kota, tambahan jumlah korban meninggal itu berasal dari di Kabupaten Aceh Utara dan Tapanuli Tengah. 


Namun demikian, Agam masih menjadi kabupaten dengan jumlah korban meninggal dunia terbanyak yakni 184 orang. Disusul Aceh Utara sebanyak 159 orang, Tapanuli Tengah sebanyak 115 orang, Tapanuli Selatan sebanyak 86 orang, dan Aceh Tamiang sebanyak 58 orang.



Jumlah korban meninggal dunia paling sedikit yakni di Kota Pasaman Barat dan Kota Lhokseumawe, masing-masing empat korban meninggal dunia. Selain korban meninggal dunia dan luka, ada 158.000 rumah rusak di 52 kabupaten/kota.


Kondisi rumah yang rusak membuat ratusan ribu orang harus mengungsi dengan jumlah pengungsi paling banyak ada di Aceh Tamiang sebanyak 252.600 jiwa. Disusul Aceh Timur sebanyak 238.500 jiwa, Aceh Utara sebanyak 153.500 jiwa, dan Bireuen sebanyak 54.100 jiwa. 


Provinsi Aceh mencatat sebanyak 817.742 jiwa masih mengungsi akibat bencana banjir bandang yang melanda sejumlah wilayah dua pekan lalu. Kepala Pusat Data Informasi dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Abdul Muhari, Jumat (12/12/2025), mengonfirmasi selain jumlah pengungsi yang mencapai 817.742 orang.



Kemudian korban meninggal dunia tercatat sebanyak 407 orang, sementara 31 orang masih dinyatakan hilang di Provinsi Aceh. “Upaya penanganan darurat terus dilakukan pemerintah, termasuk percepatan pembangunan jembatan bailey pada beberapa ruas terdampak untuk memulihkan akses transportasi,” ujar Abdul.


Menurutnya, kerusakan infrastruktur, khususnya jembatan, berdampak langsung terhadap distribusi logistik dan akses menuju lokasi-lokasi pengungsian di Bireuen, Aceh Tengah, dan wilayah sekitarnya.


BNPB bersama personel Yonzipur TNI serta Kementerian Pekerjaan Umum saat ini mempercepat pemasangan jembatan bailey di tiga lokasi di Kabupaten Bireuen yang terdampak parah.



Kunjungan Presiden Prabowo Subianto, saat mengunjungi daerah terdampak bencana di Sumatera pada Sabtu (13/12/2025), berharap agar aliran listrik di wilayah terdampak dapat kembali pulih dalam waktu sekitar sepekan, meskipun proses perbaikannya menghadapi sejumlah kendala di lapangan.


Hal itu disampaikan Presiden di Pangkalan Udara (Lanud) Soewondo, Medan, Sumatra Utara. "Insyaallah kita harapkan, ya mungkin satu minggu [listrik pulih], mudah-mudahan ya," kata Presiden Prabowo seperti dilansir Antara, Sabtu.


Prabowo menjelaskan pemulihan aliran listrik tidak dapat dilakukan dengan cepat karena kondisi fisik infrastruktur serta faktor alam yang masih menjadi hambatan. Ia menambahkan sebagian wilayah masih tergenang banjir sehingga menghambat perbaikan jaringan dan pemasangan kabel.



"Masalah listrik tidak secepat yang kita harapkan, karena kondisi fisik dan kondisi-kondisi alam yang masih harus kita atasi. Menara-menara itu sangat berat, kemudian ada kendala-kendala, sebagian masih banjir sehingga kabel-kabel tidak bisa tembus," kata Prabowo.


Presiden menegaskan pemerintah terus mengupayakan perbaikan secara bertahap dengan mengerahkan seluruh sumber daya yang tersedia. Namun, ia meminta masyarakat memahami bahwa proses pemulihan membutuhkan waktu dan tidak dapat dilakukan secara seketika. (AHY).

×
Berita Terbaru Update