ASAHAN-TURANGNEWS.COM-Adanya keluhan dari para Supir Truk Pengangkut TBS dari Afdeling yang ada di Kebun Unit PTPN IV Regional 2 Kebun Mandoge, hal ketatnya Sortasi yang dilakukan oleh pihak Pabrik Kelapa Sawit (PKS) milik PTPN IV Mandoge, dengan alasan untuk mendapatkan rendemen yang diharapkan, yang berakibat kerugian bagi para Supir dan Vendor Angkutan yang mengharapkan penghasilan dari setiap kilogram bersih yang diangkutnya.
Seperti yang diungkapkan salah satu supir yang berinisial "RS" (38) tahun, kepada Aan menceritakan curhatannya, "gawat kali sekarang sortir di PKS Mandoge bang untuk truk pengangkut TBS dari Afdeling, tapi untuk truk pengangkut TBS pihak ketiga bebas sortir bang," ungkap Aan menirukan kalimat RS, ke Wartawan ini.
Masih kata Aan, "selain mengeluhkan tentang ketatnya sortir, untuk truk pengangkut TBS dari Afdeling Kebun Mandoge sendiri, para supir juga mengeluhkan adanya dugaan potongan sampah, yang semakin lama semakin memberatkan," sebut Aan.
Atas informasi Aan, Wartawan ini mencoba melakukan konfirmasi langsung ke para supir truk pengangkut TBS yang mengangkut dari Afdeling Kebun Mandoge, dan melihat langsung bagaimana para petugas sortasi diduga membiarkan truk pengangkut TBS dari truk pihak ketiga bongkar peron, Minggu (05/04/2026).
Melalui supir truk yang berinisial "Pj" (56) tahun ke Wartawan ini menjelaskan, "benar bang, ketat kali kalau untuk truk dari Afdeling, kami harus bongkar lantai untuk di sortir, namun kalau untuk truk pihak ketiga mereka bisa bongkar peron bang, sementara kita tahulah betul bagaimana mutu TBS kelapa sawit dari para agen sawit itu kan bang, bukan rahasia umum lagi lah bagaimana mutu kelapa sawit di kampung," ungkap Pj.
"Kalau kami ini kan bergantung dari kilogram bersih yang kami angkut bang untuk gaji kami, jadi semakin banyak potongan kilogram yah semakin minimlah gaji kami bang," sebut Pj lagi, dan saat ditanya tentang apa-apa saja potongan yang dilakukan PKS Mandoge.
Pj menjelaskan dengan kalimat, "kami dapat potongan dari TBS yang di sortir yang dianggap buah mentah bang, selanjutnya juga ada potongan sampah," ungkap Pj, dan saat ditanya tentang bagaimana cara potongan bisa terjadi Pj menyampaikan dengan detail.
"Begini bang, " Contoh ini hari saya angkut ni sebanyak 428 tandan, lalu nanti bongkar lantai untuk sortir dan kena sortir seumpama ada 28 tandan bang, dan yang 28 tandan yang di sortir ini tinggal di PKS tapi sudah mengurangi kilogram bersih yang saya angkut bang karena di sortir, setelah itu truk untuk keluar kan di timbang lagi bang untuk mengetahui berat bersihnya, jadi seumpama tadi waktu masuk bobot truk bersama muatanya ada 8 ton, dan setelah di bongkar lalu di timbang lagi menjadi 2 ton, maka seharusnya kan kilogram bersih yang saya angkut itu adalah 6 ton bang, tapi realisasinya tidak bang, ada sekitar 150 kg hingga 200 kg potongan sampah bang, jadi TBS yang saya angkut itu dianggap kotor dan tidak di potong cangkem kodok, maka dianggap sampah bang," papar Pj menjelaskan secara detail.
Terpisah, menyikapi cerita detail tentang kronologi bongkar TBS dan dugaan kecurangan pihak Pabrik Kelapa Sawit PTPN IV Mandoge, kenapa bisa membebaskan truk pihak ketiga bongkar tanpa sortasi, dan TBS yang diangkut dari Afdeling yang kena sortir dan tidak dikembalikan ke Afdeling pengirim, juga terkait potongan kilogram sampah.
Ketua GBPU Demokrasi 14 Asahan, Maulana Annur alias Aan, akan melaporkan ke pihak TIPIKOR, agar tim TIPIKOR bisa melakukan Audit dan melakukan penyelidikan lebih lanjut.
"Kita laporkan ke TIPIKOR sajalah bang, biar tim TIPIKOR yang bekerja, sudah dugaan korupsi itu bang, ada dugaan permainan curang antara Manajemen PKS Mandoge dengan pihak ketiga pemasok TBS, kalau memang ada sampah yang diangkut truk dari Afdeling, sudah berapa lama PKS Mandoge itu berdiri ? Jika potongan sampah mencapai 200 kg/truk maka dalam setiap hari berapa truk dari Afdeling yang masuk ke pabrik PKS Mandoge milik PTPN IV itu, sudah ketutup sampah itu pabrik bang," sebut Aan.
Sayangnya, sang Humas PKS Mandoge keburu memblokir kontak Wartawan saat Wartawan konfirmasi terkait antrian panjang di PKS, sehingga wartawan belum mendapat penjelasan resmi dari pihak Manajemen hingga berita ini terbit. (SA).

