-->

Notification

×

Kategori Berita

Cari Berita

Iklan


 

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

“Lempar Batu Sembunyi Tangan” Pasca Banjir Aceh Tamiang, Ada Apa ???

Rabu, 15 April 2026 | 20.02.00 WIB | 0 Views Last Updated 2026-04-16T03:02:55Z
Keterangan Photo : Pengurus DPC Badan Advokasi Indonesia (BAI) Aceh Tamiang.


ACEH TAMIANG-TURANGNEWS.COM-Pasca bencana banjir besar yang melanda Kabupaten Aceh Tamiang, muncul fenomena yang memprihatinkan di ruang publik, khususnya media sosial. Di tengah upaya pemulihan dan bantuan kepada masyarakat terdampak, sejumlah pihak justru memainkan narasi “lempar batu sembunyi tangan” : mengkritik tanpa data, menyebar opini tanpa fakta, bahkan cenderung memprovokasi. 


Jurnalis media Turangnews.com melakukan bincang-bincang dengan Pengurus DPC Badan Advokasi Indonesia (BAI) Aceh Tamiang, yakni Ketua Syamsul, Sekretaris Saut Simanjuntak, Kabid Satgas Abdul Kadirsyah dan Kabid Ekonomi dan Kerakyatan Eko Waluyo di Kotalintang, Kecamatan Kota Kualasimpang, 14 April 2026.


Syamsul ketua DPC Aceh Tamiang menyampaikan  bahwa fakta lapangan menunjukkan bahwa kondisi wilayah perlahan mulai pulih. Aktivitas masyarakat sudah kembali berjalan, akses jalan utama kembali normal, meski bekas dampak banjir masih terlihat dan sebagian warga masih menempati hunian sementara. 


"Pemerintah terus bekerja keras untuk penyaluran bantuan dan pemulihan, kiranya masyarakat diminta  bersabar dan jangan terprovokasi oleh isu-isu yang tidak bertanggung jawab," ucap Syamsul.


Namun, di balik proses penyaluran bantuan Stimulan dan pemulihan, tantangan nyata masih ada. Pasca banjir ini, masyarakat juga menghadapi ancaman kesehatan seperti ISPA, diare, dan infeksi kulit akibat sanitasi yang belum optimal dan kondisi lingkungan yang belum sepenuhnya pulih serta gatal dari dampak nyamuk yang luar biasa.


Lebih jauh, bencana banjir ini bahkan tergolong parah dan berdampak luas di wilayah Aceh Tamiang, dengan korban jiwa ratusan jiwa, kerusakan infrastruktur, serta gangguan layanan kesehatan yang serius yang membutuhkan waktu dan kerja keras pihak pemerintah untuk pemulihannya.


"Kritik boleh, tapi harus bertanggung jawab dalam situasi seperti ini, kritik terhadap pemerintah tentu sah dan penting sebagai bagian dari kontrol sosial. Namun, kritik yang tidak berbasis data, menyerang secara sepihak, atau menyembunyikan identitas justru memperkeruh suasana dan berpotensi menghambat proses pemulihan," pungkas Syamsul.


Fenomena “lempar batu sembunyi tangan” ini biasanya ditandai dengan :

- Akun anonim atau tidak jelas identitasnya.

- Narasi provokatif tanpa sumber terpercaya.

- Penggiringan opini negatif tanpa solusi.

- Masyarakat diminta lebih Cerdas.


Masyarakat juga diminta untuk :

- Memverifikasi informasi sebelum menyebarkan.

- Mengutamakan sumber resmi dan media kredibel.

- Tidak mudah terprovokasi oleh narasi yang belum tentu benar.


Bencana adalah ujian bersama. Saat masyarakat berjuang bangkit, yang dibutuhkan adalah solidaritas, bukan sensasi. Kritik yang konstruktif akan membangun, sementara opini tanpa dasar hanya akan memperkeruh keadaan.


Karena pada akhirnya, kebenaran tidak butuh disembunyikan dan kepedulian tidak perlu dibuat-buat. (REN)

×
Berita Terbaru Update