ACEH TAMIANG-TURANGNEWS.COM-Di balik sunyinya sebuah rumah Kontrakan sederhana, di Desa Sungai Liput Kecamatan Kejuruan Muda Kabupaten Aceh Tamiang, tersimpan kisah pilu seorang anak penyandang autisme yang telah menjalani hidup selama 16 tahun dalam kondisi penuh keterbatasan. Tak hanya berjuang memahami dunia di sekitarnya, anak ini juga kerap memukul dirinya sendiri, seakan menahan beban yang tak mampu diungkapkan dengan kata-kata. ( Rabu, 18 Maret 2026).
Kondisi tersebut menggugah hati Dewan Pimpinan Daerah Lembaga Pejuang Srikandi Aceh (DPD LPSA) Aceh Tamiang, Nurmasari, Wan Silfa Laili, dan Syarifah sebagai sekretaris LPSA yang menginisiasi melakukan penggalangan Dana mandiri, Ustadz Mustaqin sebagai Ketua DA'I Aceh Tamiang, Zulsyafri sebagai Ketua Pena Pujakesuma, turut serta dan berkolaborasi turun langsung memberikan santunan dan perhatian kepada Ibu Tunggal yang selama ini berjuang tanpa lelah merawat sang anak.
Ustadz Mustaqin memberikan motivasi kepada sang ibu dalam menjalani hidup dan merawat anak apa lagi pasca bencana banjir bandang Aceh Tamiang " Ibu harus tetap semangat dan menjaga anak aset pintu surga karena anak yang terlahir seperti ini tidak ada dosa" ucapnya.
Sekretaris DPD LPSA Aceh Tamiang Syarifah menyampaikan bahwa apa yang dialami anak tersebut bukan sekadar kondisi medis, tetapi juga panggilan kemanusiaan bagi semua pihak.
“Selama 16 tahun, anak ini hidup dalam keterbatasan. Bahkan ia kerap melukai dirinya sendiri. Ini bukan hanya ujian bagi keluarga, tapi juga ujian bagi kita semua, apakah kita masih memiliki rasa peduli,” ujarnya dengan penuh haru.
Zulsyafri menghimbau dan mengajakagar LPSA dan Pena Pujakesuma dapat berkolaborasi untuk kegiatan sosial dan mendukung pemerintah untuk kebaikan masyarakat Aceh Tamiang. " Dengan berkolaborasi kita dapat melakukan kegiatan kegiatan sosial bersama pemerintah melakukan progam kerja sama dan membangun jaringan sehingga dapat melakukan kegiatan seperti ini, " tutupnya.
Kunjungan tersebut tidak hanya membawa bantuan materi, tetapi juga doa dan harapan agar anak tersebut mendapatkan penanganan yang lebih baik, termasuk terapi dan pendampingan yang layak.
Di sisi lain, sang ibu, Herlina Wati hanya bisa berharap. Dengan kondisi ekonomi yang terbatas, dia belum mampu memberikan penanganan maksimal, apalagi setelah pasca bencana Hidrometeorologi. Setiap hari adalah perjuangan, setiap tangis adalah luka yang tak terlihat.
“Kadang saya tidak tahu harus berbuat apa ketika dia mulai memukul dirinya. Saya hanya bisa menahan dan berdoa, dan kerinduan saya sampai saat ini di usia anak saya yang ke-16 dia bisa sembuh dan memanggil saya, mama” ungkap Herlina dengan mata berkaca-kaca.
Melalui kegiatan ini, DPD LPSA Aceh Tamiang mengajak seluruh masyarakat, para dermawan, serta pihak terkait untuk bersama-sama membuka hati dan memberikan bantuan. Dukungan sekecil apa pun sangat berarti bagi masa depan anak ini.
Karena di balik keterbatasannya, ia tetap seorang anak yang berhak mendapatkan kasih sayang, perhatian, dan kesempatan untuk hidup lebih baik. (SIP Simanjuntak).

